KRS

Jadi kegiatan perkuliahan akan dimulai sekitar sebulan lagi. Hari ini Kamis, 12 April 2018 adalah ‘hari penentuan hidup dan mati’ –istilah anak kampus sini– untuk semester yang akan dijalaninya ketika mulai masuk, kami menyebutnya KRS. Entah singkatan dari apa, intinya adalah merencanakan jadwal-jadwal kelas dengan memilih waktu, dosen yang sesuai dengan keinginan kita. Memilih mata kuliah apa, jam berapa, dan siapa dosennya, yaa itu semua dilakukan hari ini. Penentuan apakah semester ini akan berjalan lancar atau harus kerja keras.

Cuma 1 hari, tapi pusingnya bisa mencapai 1 bulan. Memastikan apakah mata kuliah yang mau diambil tidak bentrok satu sama lain. Memilih dosen yang baik dan waktu yang pas agar tidak bentrok antara mata kuliah. Perencanaan ini biasanya dilakukan berkelompok bersama dengan teman-teman sepermainan agar tidak menjadi ‘solo fighter’ di kelas.

Untuk persiapan hari ini saja, saya sendiri sudah tidak bisa tidur nyenyak dari beberapa minggu lalu. Takut tidak mendapat dosen baik, takut ketika saya klik “enroll” banyak kelas yang ditolak atau tutup, takut terpisah dengan teman-teman, takut menjadi ‘solo fighter’ dan banyak ketakutan yang ada di bayangan saya.

Multiperson chat sudah mulai ramai tentang pembicaraan mau ambil mata kuliah apa, pilih dosen siapa, dan kapan waktunya. Menyamakan rencana dari 3 minggu lalu dan tiap minggu berubah, karena nama dosen ternyata berubah, waktunya berubah dan rencana-rencana baru bermunculan. Plan A, Plan B direncanakan hingga strategi-strategi agar kami tidak mendapat dosen ‘jahat’.

Semalam, beberapa jam menuju waktunya tiba saya semakin takut. Bayangan bagaimana jika kelas tiba-tiba tutup semua, bagaimana jika sinyal internetnya lemah, bagaimana jika terpisah dengan teman-teman, dan bagaimana-bagaimana lainnya. Rencana jadwal sudah matang, tapi ketakutan-ketakutan itu muncul nyata. Berkali-kali berdoa dalam hati, coba dengarkan lagu rohani, menghayati setiap lirik dalam lagu itu dan berusaha tetap percaya pada Tuhan. Hingga ibadah doa saya datang dan berdoa, air mata bahkan sampai mengalir keluar karna ketakutan saya yang sangat parah. Saya hanya bilang kiranya Tuhan mau mengabulkan doa saya untuk melancarkan KRS saya, kiranya semua rencana boleh tercapai. Sampai pada waktunya tidur, saya berdoa agar bisa tidur nyenyak tapi kenyataan tak begitu. Mata saya tak mau terlelap hingga pukul 2 pagi, saya hanya terus berganti-ganti posisi hingga alergi debu saya kambuh. Pukul 2 saya keluar kamar mengambil tissue dan mengangkat bantal yang rasanya terlalu tinggi. Mungkin baru pukul 2.30 pagi saya bisa terlelap. Sekitar pukul 4.40 saya sudah dibangunkan untuk bersiap-siap ke kampus. Ya saya akan melakukan KRS di kampus karena saya kurang percaya sinyal di rumah kuat.

06.30 saya sampai di kampus, saya persiapkan laptop, mencoba free call dengan teman saya, dan memeriksa kekuatan dan kecepatan jaringannya.

07.15 saya mulai mengakses website KRS dan menghubungi teman-teman.

07.20 pembicaraan di telpon semakin runyam karena kami semua gugup.

07.29 saya mulai meng-klik menu “enrol” berkali-kali dan hingga pada 07.30 semua terproses dan rasanya hanya sekejap ……

Semua kekhawatiran, semua kelelahan, semua ketakutan lenyap. Saya memeriksa jadwal yang sudah terproses dan semuanya berhasil. Sungguh melegakan, dan bisa bernafas lega.

Bahagia itu sederhana, KRS lancar = bahagia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s