Bayangan

Tepat satu minggu yang lalu
Tawa itu keluar dari mulutku
Tepat satu minggu yang lalu
Kau dan aku bersenda gurau
Yaa, tepat minggu lalu

Kurasa sudah sirna semua itu
Sirna tawa itu dari pikiranmu
Seminggu sudah tak ada tawa itu
Tak pernah ku lihat dari wajahmu

Mengenalmu
Adalah hal baru bagiku
Hal yang tak pernah terpikirkan olehku
Bahkan hingga menyukaimu
Tak pernah terlintas di benakku
Mungkin ini namanya jalan hidup
Kini saat aku memerlukanmu untukku
Kau menghilang
Kau pergi entah kemana
Ketika berjumpa pun seakan kau tak kenal

Oh iya
Aku baru sadar
Aku bukan siapa siapa
Jadii untuk apa kau kenal
Untuk apa bertegur sapa
Pasti bagimu tak ada guna

Baiklah
Mungkin aku juga harus menghilang
Bahkan disaat aku sangat cinta
Karna bagimu aku tak guna
Tak ada artinya
Hanya sekilas bayangan yang lewat

Advertisements

Kutoarjo

Perjalanan Kutoarjo sudah selesai
Semuanya berjalan baik dan lancar
Walaupun hujan terus menemani kami disana
Borobudur terus kami naiki hingga tingkat atas dengan balutan jas hujan warna warni
Ribuan orang memenuhi tempat itu
Foto..
Puluhan moment mungkin terabadikan oleh kamera ipod dan kamera
Kaki pegal, baju basah dan lembap
Satu tripod hilang.. Untung saja pemiliknya merelakannya, yaa pasti ia kecewa.. Tapi mau apa lagi??
Lapar, pusing…
Sampai di bis langsung makan…
Perjalanan selanjutnya ke Malioboro
Hujan masih menemani
Tidur menjadi kegiatanku sepanjang jalan
Sesampainya.. masih hujan
Malioboro penuh dengan manusia
Jalanan penuh sesak
Tak sempat membeli apa-apa
Hanya sendal saja yang terbeli
Makan KFC di Mall Malioboro
Setelah itu balik ke bis dengan becak sambil hujan-hujanan
Mengukir nama si doi di penutup becak yang berembun
Banyak kisah yang tak bisa dimuat..
Tapi moment ku dengan doi cukup membahagiakan..
Pulang ke cibinong membawa beleeerrr…
Hahahahahaha

Perjalanan kali ini adalah perpisahan antara komisi remaja dengan pengurus ‘legendaris’ dan anggota ‘legendaris’…

Untitled

Bintang itu masih ada disana
Ia tak beranjak
Aku masih dapat melihatnya
Tingkah lakunya masih sama
Terbuka dengan siapa saja
Dari penyebar harapan palsu hingga pribadi yang ramah menjadi akibat dari sikapnya
Bagi yang menyukainya akan menjadi harapan,
Tapi bagi yang biasa saja akan menjadi hal positif yaitu sosok pribadi yang ramah
Bagiku sikapnya yang seperti itu ku anggap biasa,
Aku tau dia sangat terbuka dengan siapa saja
Kadang aku kesal dengannya
Ia menjadi sosok yang labil dan sosok penyebar harapan palsu

Hari ini ia berulah padaku
Mengatakan hal yang membuatku merasa terbang jauh
Membuat aku merasa mendapat harapan
Tapi kenyataan dan logika ku menyadarkan
Membuatku kembali berpikir kalau mungkin itu hanya candaan
Bukan kata-kata serius

Namun hatiku berandai andai
Andaikan kata-kata itu adalah suatu keseriusan
Andaikan kesenangan hari ini bukan cuma untuk hari ini
Andaikan dia tau isi hatiku

Happy Father’s Day

8 tahun sudah berlalu..
Sosokmu mu masih terbayang jelas di pikiranku
Tak sedikit pun niatku untuk melupakanmu
Bahkan tak ku ijinkan siapapun menggantikan sosokmu
Hanya dirimu yang terbaik
Meskipun dulu aku membenci perlakuanmu
Kini aku mengerti apa maksudmu
Aku rindu
Rindu akan candaanmu
Aku ingin tahu, apa yang akan kau lakukan jika saat ini kau masih ada
Kini aku sudah menjadi seorang gadis
Bukan bocah kecil lagi
Bocah kecil yang kau gendong di pundakmu
Aku masih ingat saat itu
Kini aku telah jatuh hati pada laki-laki lain
Mungkin dia pilihanku
Bagiku dia adalah pangeranku, tapi dirimu tetap rajanya
Sekali lagi aku rindu dirimu
Andaikan kau ada disini
Ingin sekali aku memelukmu..
Papii…

Komponen Cinta

Cinta punya enam komponen; kata Letto “harus ada lubang di jiwa”, hasrat untuk saling mengisi lubang di jiwa itu.

Kemudian harus ada kehadiran fisik, terutama hati dari pasangan untuk menemani, membantu dan berjalan bersama.
Cinta juga butuh komitmen untuk saling setia dan tidak mengkhianati cinta.

Dan harus melibatkan komponen keempat, akal budi, agar tidak buta dan tidak gila-gilaan sehingga tetap mencintai meski sudah ditipu habis-habisan.

Komponen kelima, cinta harus membuat keduanya berkembang; terikat tapi tidak mengerdilkan.

Dan harus disadari, komponen cinta yang tak kalah penting adalah paradoks; disadari sejak awal bahwa benci dan sayang dalam cinta harus hadir bersamaan.

Jadi jangan cuma siap dengan manisnya susu, tapi juga siap mencecap pahitnya kopi.

Terikat tapi tak boleh mengekang seperti menggenggam pasir. Jika terlalu dipegang erat, pasir akan jatuh satu per satu, tapi jika digenggam dengan santai, ia akan tetap di telapak tangan.

Pasir adalah bahan dasar bangunan material, dan cinta adalah bahan dasar bangunan spiritual. Lalu bungkus keenamnya dengan romantisme, dan senandungkanlah. Seperti yang akan saya lanjutkan dari puisi Jarwo Kwat yang ditulis Khrisna Pabichara:

“Aku ingin membangun rumah di mata mu
dengan kolam di tengahnya
Tempat kita berlengang-lengang di riciknya
Sungguh, aku hanya memilih rumah rindu
Yang padanya luka dan cinta menyatu

Dan tak seperti perindu lainnya
Aku tak akan mencarimu
karena kamu sudah ku temukan di hatiku
Tempat yang sarat hanya olehmu”

Can you leave me??

Hari terus berganti
Aku terus berjuang untuk merelakannya hingga tahap melupakannya
Walaupun takkan pernah bisa melupakannya
Laki-laki itu terus menghantui walaupun aku sudah menjauhinyaa
Aku bukanlah seseorang yang mudah tak peduli dengan orang lain walaupun orang itu adalah musuhku
Satu kali ada hal yang berhubungan dengan laki-laki itu
Aku memberitahunya
Tapi hanya reaksi dingin yang dia berikan
Logikaku berteriak : “UNTUK APA LU KASIH TAU DIA?? UDAH TAU ORANGNYA TUKANG NYAKITIN LU.. MASIH AJA DI LADENIN… BODOHHH”

Aku menyesali perbuatan bodohku
Hal yang sama saja membunuh diri sendiri..
Lagi-lagi terulang, hal yang sama..
Ketika dia melewati kostanku (stlh hal tadi terjadi), aku memperhatikannya..
Dan hal menyakitkan hatiku terjadi lagii
Logika ku berteriak hal yang sama
Kapan aku bisa tak peduli padanya?
Atau bisakah kau saja yang meninggalkanku??
Jangan pernah membaiki ku lagii dan harapan ituu…
Bawalah harapan itu bersamamu ..
Mungkin bukan aku pemilik asli harapan ituu…

Yang Terlewatkan

Waktu membiarkanku untuk dekat dengannya
Waktu memberikan kesempatan itu untukku
Laki-laki itu pun mempersilahkanku
Ia tak risih sedikit pun

Aku ingin mengambil kesempatan itu
Kesempatan yang mungkin tak terulang
Namun pikiranku berkata aku harus menghilang
Aku harus pergi

Lain kisah dengan hatiku
Ia ingin mengambil kesempatan itu
Ia berteriak ingin dekat dengannya
Bahkan saat jiwaku sudah bisa menenangkannya,
Hatiku masih berteriak menyesalinya
Mengapa aku tak mengambilnya

Mungkin kini hatiku menangis
Banyak kesempatan yang dibuang
Banyak momen yang harusnya bisa di dapatkan
Namun aku tak memanfaatkannya

Satu hal
Aku hanya ingin pergi darinya
Membayanginya tak selamanya membuatku bahagia
Aku sering bahagia karnanya
Tapi aku juga sering sakit karnanya
Hatiku dan pikiranku
Masih berbeda pendapat
Aku bagaikan embun di daun talas